“Animal Farm Karya George Orwell: Otokritik Terhadap Kondisi HMI Brawijaya Hari Ini”
Oleh:
Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang (P) Kota Malang Komisariat Hukum Brawijaya
“The only good human being is a dead one.”
-Snowball-
MANUSIA DAN BINATANG
Narasi yang memisahkan antara makhluk satu dengan makhluk lainnya berdasarkan jumlah kaki yang dimiliki menjadi suatu pemersatu Binatang di Peternakan Manor yang dimiliki oleh Tuan Jones. Manusia sampah yang hanya memikirkan cara untuk melakukan eksploitasi terhadap seluruh jerih payah para Binatang itu berakhir menjadi manusia luntang lantung setelah Revolusi Kandang Sapi dilakukan oleh para Binatang. Tujuan dari penghapusan dominasi Manusia terhadap Binatang ini menyebabkan Binatang bersatu dalam pemahaman untuk berjuang bersama. Demi darah, keringat, usaha, dan berbagai macam perjuangan yang telah binatang berikan dengan pemaksaan Jones, binatang-binatang itu mencetuskan sebuah Paham bernama Binatangisme.
Binatangisme ini memiliki sebuah jargon yang telah penulis sebutkan di awal. Mereka bersatu dalam pemahaman bahwa apapun yang berkaki dua (dalam konteks tidak bersayap, red: Manusia) adalah Musuh. Mereka juga menetapkan bahwa para Binatang tidak boleh untuk membunuh Binatang lainnya dengan alasan apapun. Inilah yang menarik dari novel Animal Farm karya George Orwell yang diterbitkan pada 17 Agustus 1945. Novel ini menceritakan bagaimana revolusi yang digagas oleh para Binatang berujung kembali kepada penindasan yang dilakukan oleh para Binatang itu sendiri. Sebuah novel yang mengantarkan umat manusia yang berpikir untuk merefleksi bagaimana kondisi kemanusiaan, etika, politik, dan demokrasi di kehidupan nyata.
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai salah satu Organisasi Perjuangan yang karena statusnya sebagai Organisasi Mahasiswa dengan Usaha yang ada pada Pasal 7 Anggaran Dasarnya berperan aktif dalam kehidupan kemahasiswaan dan pembangunan pemuda. Peran aktif tersebut salah satunya tampak pada ajang kontestasi internal kampus di tingkat Universitas maupun Fakultas, bahkan sampai Pemilihan Ketua Himpunan. Peran tersebut memang diafirmasi oleh pisau analisis yang dimiliki oleh HMI bernama Nilai Dasar Perjuangan. Lebih tepatnya pada Bab 5 yang berjudul Individu dan Masyarakat. Bab tersebut menjelaskan peranan dari Sistem terhadap umat manusia berkehidupan.
Dinamika usaha HMI dalam mewujudkan tujuannya turut mewarnai perjuangan HMI Cabang (P) Kota Malang yang terletak di Universitas Brawijaya (red: HMI UB). HMI UB tidak pernah absen untuk berkontestasi di Pemilihan Mahasiswa (refleksi kali ini hanya akan membahas kontestasi Eksekutif dan Legislatif Mahasiswa. Berbagai upaya dan narasi yang digaungkan turut mewarnai 5 tahun kekuasaan HMI di ranah Universitas maupun fakultas. Namun, gejolak dari lamanya rezim Hijau Hitam tersebut menuai banyak sekali bibit-bibit kekecewaan dan sakit hati. Tidak hanya disebabkan oleh diri HMI, namun juga disebabkan oleh orang yang merasa lebih besar daripada Himpunan Usang ini.
SELURUH YANG BERKAKI DUA ADALAH MUSUH DAN ASAL BUKAN HMI
Sebuah narasi yang timbul dari kekecewaan dan amarah dari para Mahasiswa di UB yang biasa dikenal dengan singkatan “ABH” merupakan wujud dari kegagalan HMI dalam menjadikan Islam sebagai asas dalam organisasinya. Benarlah kata Agussalim Sitompul bahwa HMI ini sudah cenderung pada organisasi politik. Jauh sekali dari nilainilai Islam. Jangankan organisasi politik, untuk dikatakan sebagai organisasi politik saja mereka tidak bisa untuk menjadikan internalnya satu barisan dan bersatu dalam pemahaman perjuangan. Teruntuk kakanda Agussalim Sitompul, mungkin nanti akan Penulis tambah beberapa poin kemunduran HMI pasca telaah yang lebih mendalam.
Narasi “Asal Bukan HMI” merupakan salah satu narasi yang mempersatukan entitas di luar HMI untuk melakukan konsolidasi perjuangan konfrontatif kepada HMI. Narasi ini bukan menjadi sebuah “lawan” bagi HMI. Aneh bagi HMI apabila menganggap ini sebagai “lawan”. Narasi itu merupakan sebuah kritik keras bagi HMI karena telah menjadi “Tuan Jones” setelah sekian lama berkuasa. Jones yang selalu melakukan eksploitasi terhadap segala hal yang ia miliki di peternakannya. Begitupun HMI menjalani AMANAH yang diberikan kepadanya. Eksploitasi yang dilakukan tidak dibarengi dengan perawatan dan peningkatan pemahaman kader baik dari dunia idenya maupun kemampuan manajemen dalam mengeksekusi programnya itu. Menjauhkan diri dari eksistensi hendaknya dilakukan dalam pencapaian esensi yang lebih berguna bagi mahasiswa dan masyarakat.
PERSAINGAN SNOWBALL DAN NAPOLEON
Pasca kematian dari Old Major sang pencetus ideologi, penerus “tahta” sang konseptor ideologi berperang untuk melanjutkan pemikiran dari old major, digambarkan dengan pertarungan gagasan antara Napoleon dan Snowball, Senada dengan HMI pasca Nurcholis Madjid dihadapkan pada pertarungan dalam internal yang mewarnai bagaimana HMI akan dibawa. Fakta sejarah mengatakan bahwa perpecahan antara HMI DIPO dan MPO timbul pasca asas tunggal pancasila, yang kemudian memecah tubuh HMI hingga saat ini. Dalam konteks Universitas Brawijaya, Lahirnya HMI Cabang (P) Kota Malang membawa HMI Brawijaya (dalam hal ini masing masing komisariat) terpecah belah untuk merebutkan kepentingan politis dalam hal ini tahta kekuasaan ketua umum yang dibalut dengan “kepentingan ideologis” yang mengatasnamakan umat.
Di Animal Farm kita disuguhkan ideologi “Binatangisme” yang awalnya digunakan sebagai kekuatan menyatukan bangsa binatang, berubah menjadi paham yang digunakan untuk menundukkan binatang itu sendiri. Mereka yang dianggap “tokoh intelektual” penerus paham perjuangan justru digunakan Napoleon untuk mengibuli binatang lain, dan membentuk totalitarianisme yang menihilkan kebebasan dari binatang itu sendiri. HMI tak luput dari kondisi yang demikian, ideologi keislaman dan keindonesiaan yang digaungkan HMI untuk menyatukan umat islam, pada akhirnya dalam praktik politik praktis mengubah organisasinya hanya sebagai ladang perebutan kekuasaan untuk “urusan perut” semata, dan memecah belah internal organisasinya sendiri.
Pertarungan antara Napoleon dan Snowball menggambarkan 2 bentuk sudut pandang dalam ideologi. Sudut pandang pertama yang mengharap bahwa ideologi harus dipraktikkan sesuai dengan apa yang seharusnya “Das Sollen” dan sudut pandang kedua mengharap bahwa Keberhasilan Ideologi harus diteruskan dengan pembaharuan cara pikir baru yang relevan dengan kondisi yang ada atau dalam ini pemertahanan adanya “status quo” yang sudah diperoleh. Kondisi serupa sekali lagi mirip dengan kondisi di dalam HMI. Catatan sejarah telah membuktikan 2 paradigma yang terus berbenturan di kubu HMI, pertama mengharap HMI tetap pada nafas perjuangannya yakni “kaderisasi” yang mengharapkan HMI terus dapat mencetak kader kader yang progresif untuk melahirkan pemimpin di masa depan, lepas dari pusaran politik praktis baik di tataran kampus maupun nasional dan kembali kepada fitrah organisasi untuk mewujudkan Mission HMI. Kubu kedua adalah kubu yang berharap perubahan dalam HMI, kubu ini adalah kudu yang kecewa akan kondisi HMI yang mengalami kemunduran, dalam kuantitas jumlahnya memang kecil dibanding kubu pertama, namun memang selalu menjadi antithesis dari kubu pertama. Pada akhirnya kompromi menjadi jalan Tengah terakhir dalam pertaruangan antar kubu tersebut. Pertanyaan yang penulis ingin tanyakan kepada para pembaca, apakah sikap kompromis ini sudah tepat dilakukan atau malah sebaliknya?
DARI PEMBEBASAN MENUJU PENINDASAN
George Orwell dalam Animal Farm menggambarkan transformasi perjuangan hewan-hewan yang awalnya bertujuan membebaskan diri dari eksploitasi manusia menjadi rezim baru yang menindas. Pemberontakan awal yang dipimpin oleh hewanhewan seperti Napoleon dan Snowball dimulai dengan semangat egalitarianisme dan solidaritas. Namun, seiring waktu, mereka yang berkuasa mengkhianati nilai-nilai awal perjuangan demi kekuasaan pribadi.
Kondisi ini dapat dianalogikan dengan dinamika di tubuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). HMI, sebagai organisasi yang lahir dari semangat pembebasan dan perjuangan intelektual Islam, seringkali terjebak dalam siklus transformasi kepemimpinan yang mirip. Ada kalanya elit organisasi yang seharusnya menjaga idealisme justru mulai memanfaatkan posisi mereka untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Alih-alih menjadi alat perjuangan untuk umat dan bangsa, sebagian kader terjebak dalam pragmatisme politik dan hierarki kekuasaan yang menindas kader-kader muda atau mengabaikan aspirasi mereka.
Seperti halnya Napoleon dalam Animal Farm yang secara bertahap mengadopsi praktik-praktik manusia yang dahulu ditentangnya, sebagian kader HMI juga cenderung melanggengkan struktur kekuasaan eksklusif, menjauh dari nilai-nilai awal perjuangan organisasi. Dalam kondisi ini, semangat pembebasan yang menjadi alasan berdirinya organisasi justru berubah menjadi alat penindasan baru. Parahnya penindasan ini tidak hanya menyasar pada kelompok lain diluar golongannya, para anggota tak lepas dari jerat eksploitasi dari para “Elit HMI”. Lebih buruk dari itu untuk menjaga tangan sang elit agar tetap bersih mereka mengorbankan para anggotanya untuk melakukan pekerjaan kotor, sehingga banyaknya barisan sakit hati akibat tindakannya.
DEKADENSI DAN PENGKHIANATAN TERHADAP IDEOLOGI
Permasalahan berkaitan dengan pertarungan ideologi dengan politik bukan sebuah lagu baru, Melainkan lagu lama yang tak lekang oleh waktu. Dalih bahwa salah satu usaha HMI adalah berpartisipasi aktif dalam perguruan tinggi kemudian serta merta diartikan bahwa Pemilwa adalah kunci. Kunci semuanya. Perkaderan, tempat berproses kader, dan banyak lagi lainnya tidak terlepas dari branding HMI itu sendiri. Seakan hanya dengan branding diri HMI menjadi tiada tanding. Kekuasaan selama 5 tahun, kemudian menjadi tameng normalisasi Kader yang tidak memenuhi syarat untuk maju di Internal Kampus.
Pengkhianatan terhadap ideologi ini juga tercermin dari praktik kolusi dengan aktor-aktor eksternal yang memiliki agenda berbeda dengan nilai-nilai HMI. Seperti babi dalam Animal Farm yang akhirnya berdamai dengan manusia, sebagian elit organisasi seringkali terlibat dalam kompromi dengan kekuatan eksternal yang mengikis independensi dan integritas HMI. Hal ini membuat organisasi tampak teralienasi dari akar perjuangan dan kaderisasi yang sesungguhnya.
Pengkhianatan ideologi ini tak hanya dilakukan oleh para elit organisasi, namun juga sudah membudaya dalam anggotanya. HMI telah dianggap sebagai “batu loncatan” bagi para anggotanya untuk mencapai kursi politik semata. Nampak jelas agenda politik menjadi agenda paling ramai didatangi oleh para kader, namun berbanding terbalik dengan agenda diskusi dan aksi. Jelas anggapan bahwa HMI adalah “PARPOL” dalam kampus tidak salah untuk diberikan karena HMI telah kehilangan esensi sebagai organisasi “PERKADERAN”. Para kader akhirnya dibentuk dengan mental prajurit yang patuh arahan dalam agenda politik, namun nihil dalam kepemimpinan dan pemecahan masalah dalam masalah kemahasiswaan yang timbul di era disrupsi ini.
SANG KELEDAI BENJAMIN
Benjamin dikisahkan sebagai keledai yang seringkali diam dalam menanggapi suatu isu di Peternakan Binatang. Benjamin memiliki kemampuan baca tulis yang lain daripada binatang di peternakan. Berbagai peristiwa yang telah terjadi, Benjamin memilih diam tanpa memberikan komentar atau tindakan apapun. Pernyataan sikap Benjamin baru terlihat ketika temannya, Boxer sang Kuda Jantan telah dibuang ke Tukang Jagal oleh Napoleon. Katakanlah Benjamin menyatakan sikap pada saat Binatangisme itu diubah, maka tidak perlu kejadian-kejadian naas menimpa para domba, Boxer, dan binatang lainnya.
Benjamin merupakan representasi dari kaum-kaum apatis yang tidak memperdulikan keadaan sekitar. Kaum yang memilih diam dan tidak memedulikan cara kerja alam semesta. Golongan ini masih ada bahkan di kalangan manusia modern dengan percepatan arus informasi yang ada. Golongan yang hanya menjadi objek dalam berjalannya dunia. Diperah suaranya dalam kontestasi tanpa mengetahui proyeksi kondisi dunia karena kealpaan partisipasinya. Golongan ini terus ada dan entah sampai kapan akan ada di dalam tubuh HMI. Anggota yang tak sadar peran dan tujuan hidupnya sebagai pemimpin setidaknya untuk dirinya sendiri. Entah bagaimana cara mereka untuk meletakkan sudut pandangnya terhadap dunia, namun yang jelas mereka memilih untuk pasif di tengah dunia yang terus memperbarui dirinya.
Kondisi kader HMI Brawijaya hari ini bahkan lebih buruk dari apa yang digambarkan oleh Benjamin. Para Anggota yang tidak puas akan kondisi HMI menempatkan dirinya pada barisan sakit hati, barisan sakit hati ini kemudian bergejolak bahkan membuat gerakan resistensi terhadap segala hal yang berhubungan dengan HMI. Kondisi seperti ini memberikan dua sudut pandang bagi penulis, yang pertama adalah bentuk dari kegagalam sistem rekuirtmen dan perkaderan yang dilakukan oleh HMI untuk dapat memberikan kondisi objektif apa yang bisa diperoleh di HMI. Dalam sistem rekuirtmen sering kali HMI dianggap organisasi ”sempurna” yang dapat memfasilitasi seluruh anggotanya. Bahkan acab kali pola rekuirtmen di paksa untuk mencapai angka-angka tertentu demi bargaining politik semata tanpa memperhatikan kondisi kemampuan HMI. Sudut pandang kedua ditujukan bagi anggota HMI sendiri yang seperti peribahasa dituliskan ”habis manis sepah dibuang”, dalam hal ini dimaksudkan bagaimana anggota lagi-lagi hanya memanfaatkan HMI untuk kepentingan individunya semata. Bukanlah hal yang salah untuk masuk kedalam organisasi untuk mendapat keuntungan didalamnya, namun memaknai proses panjang kaderisasi tidak bisa demikian. Ada tanggung jawab moril untuk tetap memberikan sesuatu untuk himpunan yang merupakan barang mati ini. Namun memang benda mati bernama HMI ini jauh dari kata sempurna bila orang-orang didalamnya tidak berdinamika dengan baik. Kaderkader yang menjelma menjadi benjamin tidak akan pernah hilang dari tubuh HMI. Penulis mengibaratkan bagai magnet yang memiliki sumbu utara dan selatan, ia tarik menarik sekaligus tolak menolak dalam waktu yang bersamaan, memisahkan kutub utara dan selatan akan menghasilkan kutub utara dan selatan yang baru. Kondisi ini tidak harus dimaknai sebagai keburukan, kadang kalanya ”para Benjamin” ini yang menyadarkan HMI bila organisasi ini harus terus berbenah lebih baik. Suatu kondisi yang baik-baik saja menandakan bahaya, karna kita tidak bisa tau mana yang harus dibenahi dari organisasi tua ini.
AKHIR KISAH TRAGIS DAN SIKLUS YANG TERUS BERPUTAR
Pada penghujung Animal Farm, George Orwell menghadirkan kisah yang tragis dan penuh ironi. Para hewan yang awalnya berjuang melawan penindasan manusia dengan semangat kebebasan dan kesetaraan mendapati diri mereka kembali ke dalam kondisi penindasan, bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Para babi, yang memimpin revolusi dengan janji perubahan, justru menjadi tiran baru. Lambat laun, mereka tak hanya memanfaatkan kerja keras hewan-hewan lain untuk keuntungan pribadi, tetapi juga mulai menyerupai manusia, baik dalam tindakan maupun penampilan. Adegan akhir, di mana babi dan manusia bermain kartu bersama hingga sulit dibedakan, menjadi simbol perulangan siklus kekuasaan yang tragis: mereka yang tadinya tertindas kini menjadi penindas.
Prinsip revolusi yang awalnya berbunyi “Semua hewan sama” berubah menjadi
“Semua hewan sama, tetapi beberapa hewan lebih sama daripada yang lain.” Revolusi yang bertujuan untuk menciptakan keadilan malah gagal mencapai tujuannya. Sebaliknya, siklus kekuasaan berulang tanpa perubahan hakiki. Hal ini menggambarkan ironi besar dalam sejarah pergerakan sosial, di mana idealisme awal sering kali digunkan oleh keserakahan dan ambisi para pemimpin baru.
Kisah Orwell tersebut memiliki relevansi yang kuat dengan kondisi yang kadang terjadi dalam organisasi besar seperti HMI khusunya di Brawijaya. Sebagai organisasi yang berdiri dengan semangat perjuangan untuk membentuk pemimpin yang berkualitas dan berkontribusi bagi masyarakat, HMI memulai perjalanannya dengan idealisme yang besar, serupa dengan revolusi para hewan di Manor Farm. Namun, dalam perjalanannya, ada dinamika internal yang sering kali menyerupai siklus kekuasaan dalam Animal Farm.
Seperti babi dalam cerita Orwell, beberapa pemimpin organisasi dapat tergoda oleh kekuasaan dan status, sehingga perlahan-lahan melupakan prinsip awal perjuangan. Dalam beberapa kasus, perebutan jabatan dalam struktur organisasi menjadi tujuan utama, mengalahkan visi besar untuk menciptakan perubahan yang nyata. Hal ini menciptakan potensi korupsi terhadap idealisme organisasi, menjadikan perjuangan lebih berfokus pada kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Selain itu, hierarki yang terbentuk dalam HMI dapat menciptakan kesenjangan antara elite organisasi dan anggota biasa. Para pengurus yang seharusnya menjadi pelayan justru terkadang terpisah dari kebutuhan dan aspirasi anggota. Sama seperti para babi yang memanfaatkan kerja keras hewan lainnya, beberapa pengurus lebih sibuk dengan agenda pribadi daripada melibatkan anggota dalam perjuangan kolektif. Akibatnya, anggota biasa merasa terpinggirkan, sementara elit organisasi menikmati manfaat dari posisi mereka. Siklus perubahan tanpa transformasi hakiki juga menjadi isu yang dapat terjadi. Dalam Animal Farm, pergantian pemimpin hanya menggantikan penguasa lama tanpa mengubah sistem yang mendasarinya. Begitu pula dalam organisasi seperti HMI, konflik internal dan perebutan kekuasaan kadang tidak menghasilkan pembaruan signifikan dalam budaya organisasi. Visi besar seringkali terhenti pada retorika tanpa implementasi nyata.
Namun, kisah Animal Farm bukan hanya peringatan tentang bahaya kekuasaan, tetapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana organisasi dapat memutus siklus ini. HMI memiliki peluang besar untuk belajar dari sejarah dan literasi seperti ini. Dengan merefleksikan perjalanan organisasi, HMI dapat memperkuat kembali nilai-nilai dasarnya Islam, Keindonesiaan, keadilan, dan pelayanan masyarakat agar tidak terjebak dalam pola yang stagnan. Langkah-langkah seperti memperkuat transparansi dan akuntabilitas, memastikan keterlibatan seluruh anggota dalam pengambilan keputusan, serta mempromosikan kaderisasi berbasis meritokrasi dapat menjadi kunci untuk menjaga HMI tetap relevan dan progresif. Kepemimpinan harus berorientasi pada pelayanan, bukan keuntungan pribadi. Reformasi struktural yang berkelanjutan juga perlu dilakukan untuk memastikan bahwa organisasi benar-benar menjadi alat perubahan yang sesuai dengan cita-cita awalnya. Pada akhirnya, Animal Farm mengajarkan bahwa tanpa pengawasan dan komitmen terhadap nilai-nilai inti, revolusi cenderung berakhir dengan pengulangan penindasan yang sama. HMI, dengan sejarah panjang dan pengaruh besarnya, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa idealisme tidak hanya menjadi omong kosong belaka, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa dampak positif bagi masyarakat luas.